Setiap 2 Menit Seorang Wanita Meninggal Akibat Kanker Serviks

Kanker serviks adalah penyakit kanker kedua terbanyak yang dialami wanita setelah kanker payudara. Di Indonesia sendiri menurut data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, angka kematian akibat kanker serviks mencapai 26 orang per hari. Data tersebut mengindikasikan bahwa setiap kurang dari satu jam kanker serviks mengambil nyawa seorang wanita di Indonesia.

Kanker serviks biasanya menyerang leher rahim (serviks), bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama (vagina). Kanker ini terjadi saat sel normal di serviks berubah menjadi sel kanker, perubahan ini biasanya memakan waktu 10 sampai 15 tahun hingga terjadi kanker. Itulah mengapa butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mendeteksi dan kemudian menanganinya sebelum sel itu berkembang menjadi kanker serviks.

Kanker serviks seringkali dialami dan bahkan bisa membunuh kaum perempuan di usia produktif, yaitu usia 30 hingga 50 tahun. Pahadal, pada periode usia tersebut, mereka biasanya masih memiliki tanggung jawab ekonomi dan sosial kepada keluarganya.

Berbeda dengan kanker lain yang tidak diketahui penyebabnya, lain halnya dengan kanker serviks. Menurut penelitian, gangguan kesehatan ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik yang menyerang leher rahim. Kondisi bisa semakin bertambah parah apalagi setelah sel kanker berkembang dan menyebar ke organ-organ lain di dalam tubuh penderita.

Ada lebih dari 100 jenis kanker serviks, tetapi kebanyakan tidak berbahaya. Bahkan tak sedikit orang dewasa yang pernah terkena HPV dalam hidupnya. Beberapa jenis HPV tidak menyebabkan gejala sama sekali, ada yang dapat menyebabkan kutil kelamin, ada juga yang menyebabkan kanker serviks. Dua jenis virus HPV (HPV 16 dan HPV 18) diketahui bertanggung jawab terhadap 70% dari semua kasus kanker serviks secara global.

Virus HPV seringkali ditularkan melalui hubungan seksual berisiko. Faktor lain yang memicu tumbuhnya sel kanker ini adalah pernikahan muda, kehamilan dalam frekuensi banyak, kebiasaan merokok, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang, hingga gangguan Infeksi Menular Seksual (IMS). Ada pula  faktor penularan nonseksual, seperti penggunaan pakaian yang sudah terkontaminasi dalam jangka waktu lama. Infeksi HPV umum terjadi dan tidak menimbulkan gejala, sehingga seseorang yang terinfeksi bahkan tidak mengetahui jika dirinya sudah terkena dan bisa saja menularkan pada orang lain.

Perlu diketahui bahwa kanker serviks membawa beban ekonomi yang berat karena umumnya perempuan terkena penyakit ini pada usia produktif. Padahal pada periode usia tersebut, mereka seringkali menjadi tulang punggung keluarga. Indonesia termasuk negara berkembang dengan angka pengidap kanker serviks yang tinggi. Usia harapan hidup bagi pengidap kanker serviks pun sangat rendah. Umumnya, kanker serviks baru terdeteksi pada stadium lanjut.

Kanker serviks sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah. Bahkan satu-satunya kanker yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Namun lebih dari 70% penderita datang memeriksakan diri dalam stadium lanjut sehingga banyak menyebabkan kematian karena terlambat ditemukan dan diobati. Itulah sebabnya penyuluhan tentang kanker serviks sangat penting dilakukan agar jumlah penderitanya tidak bertambah.

Ladies, salah satu solusi untuk mencegah terjadinya kanker serviks bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil terlebih dahulu, misalnya dengan memerhatikan pemilihan pakaian dalam. Pilihlah pakaian dalam yang tepat, dengan ukuran proporsional dan tidak terlalu ketat, sehingga bisa menjaga kesehatan miss v Anda.

K-Queen Energy Panties bisa menjadi pilihan celana dalam yang tepat untuk mendukung Anda ketika beraktivitas. Ini adalah celana dalam wanita dengan teknologi tinggi ion negatif dan sinar infra merah. K-Queen Energy Panties nyaman digunakan dan dapat menjaga kelembapan organ intim wanita dan pH tetap normal sehingga organ intim tetap terjaga kesehatannya. Selain itu, teknologi dalam K-Queen Energy Panties dapat membunuh bakteri, jamur, dan virus penyebab keputihan dan memperkecil risiko bau yang disebabkan bakteri.