fbpx

A. Firman Santoso – Senior Crown Ambassador

tidak ADA alasan  

UNTUK BERHENTI BERJUANG

Sosok satu ini bisa menjadi bukti salah satu binaan K-System yang berhasil. Perubahan yang terjadi dalam hidupnya begitu pesat. Perjuangan mencari nafkah keluarga yang diawali sebagai tukang pijat keliling berubah total ketika ia memutuskan untuk bergabung dengan K-LINK dan tekun mengikuti K-System. Bisnis yang dibangunnya berkembang pesat dan penghasilannya melambung jauh.

Saat bertugas sebagai tukang pijat keliling, Firman ditemani dengan motor vespa butut. Hidupnya penuh dengan kekurangan, mulai dari tinggal di rumah kontrakan, penghasilan tidak menentu serta jarak yang jauh ditempuhnya ketika menjajakan jasa pijatnya. Berkawan akrab dengan kekurangan memang sudah lama dijalani pria yang dikenal murah senyum ini. Lahir di daerah Jawa timur tepatnya Jember dalam kondisi ekonomi keluarga yang minim. Ayahnya yang menjadi guru di sebuah Madrasah, mengharuskan Firman kecil merasakan kerasnya kehidupan karena ikut membantu orang tua mencari penghasilan.

Setelah lulus SD ia sempat menjadi penjual koran untuk membantu biaya sekolah, namun proses pendidikannya sempat tertunda selama 2 tahun karena tidak ada biaya. Keinginannya untuk terus sekolah membuat usahanya berjualan koran semakin keras. Ia bisa membiayai pendidikannya di SMP dan ini terus digelutinya sampai memasuki masa SMA. Di samping itu ia juga melakukan kerja sambilan di sebuah warung sate.

Ketika lulus SMA pada tahun 1988 Firman memutuskan untuk mengubah nasib dengan merantau ke Medan dan bekerja di sebuah yayasan pendidikan sebagai office boy. Profesi ini dijalaninya sampai tahun 1993, dan harus terhenti saat mendengar ibunya sakit keras dan kemudian meninggal. Ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Selang beberapa waktu Firman memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta. Di terminal di kota Surabaya ia kembali mengalami musibah, dirampok orang. Meski semua harta benda hilang, semangatnya tidak pupus. Pantang berputus asa ia menumpang sebuah truk menuju Yogyakarta. 

Ketika sampai di Yogyakarta semua jenis pekerjaan dilakoninya secara serabutan sekedar untuk menyambung hidup. Menjadi tukang cuci piring di warung-warung makan sampai tidur di terminal-terminal. Kehidupan keras yang dijalani saat itu membentuk mental dan kepribadiannya.

Firman tidak memiliki sanak saudara di Yogya, namun ia memutuskan untuk bertahan hidup di kota ini dengan menjadi tukang pijat keliling. Awalnya ia tinggal di sebuah kamar kos berukuran kecil, meski kehidupannya masih jauh dari kesuksesan namun ia tidak berpasrah diri dan terus bekerja keras.

Rupanya nasib berkata lain. Saat sedang melayani salah satu pelanggannya, Rivai Djatmika, ia ditawarkan menjalani sebuah bisnis mlm dengan produk yang luar biasa. “Begitu mendengar istilah MLM, saya langsung menolak. Tapi setelah beliau bilang bisnis ini namanya Multi Level Marketing dan terdengar keren di telinga saya langsung setuju. Ternyata MLM itu ya Multi Level Marketing,” kenangnya sembari tertawa. Setelah itu ia sempat menjadi penjual produk K-Liquid Chlorophyll sambil tidak meninggalkan profesinya sebagai tukang pijat.


Di awal bergabung dengan K-Link, ternyata Firman memiliki kisah menarik karena ia merasa ditipu oleh Rivai.  “Dulu Rivai minta KTP saya tanpa jelasin maksud dan tujuannya, tapi karena tidak enak untuk menolak ya sudah saya kasih. Eh ternyata tidak lama Rivai datang memberi selamat sekaligus memberi saya kartu anggota. Saat itu saya emosi sekali karena merasa tertipu,” tandasnya.

Selama beberapa waktu, Firman menjalankan bisnis K-LINK tanpa mengikuti system. Ia kembali mendapat cobaan berat. Istrinya hendak melahirkan namun karena biaya yang tidak mencukupi membuat sang istri sempat tertahan di rumah sakit. Dengan kekuatan cinta dan tekad tidak ingin kehilangan harga diri sebagai seorang ayah dan suami, dalam 5 hari ia mampu mengeluarkan istri dan anaknya dari rumah sakit. Kejadian itulah yang membuatnya memutuskan untuk serius di bisnis K-LINK, melalui segala halangan dan rintangan tanpa kenal menyerah.

“Puncaknya saat saya mendengarkan sebuah ceramah dan sang ustadz mengatakan bahwa Tuhan membenci orang kaya yang sombong, tapi lebih benci lagi kepada orang miskin yang sombong. Saat itu lah saya berkomitmen untuk serius berjuang di K-LINK,” tuturnya.

Awal perjuangannya di K-LINK tidak semulus perkiraan orang. Cacian, hinaan dan penolakan menjadi menu wajib baginya setiap hari.

Namun kekuatan tekad merubah nasib untuk keluar dari kemiskinan membuatnya terus maju dan bertindak. 

“Awal perjuangan saya dipenuhi berbagai kesulitan, namun karena terus mengikuti modul-modul pelatihan K-System, saya tidak mempunyai alasan lain untuk berhenti berjuang. Karenanya di setiap kesempatan saya selalu bilang saya ini 100 % produk K-System,” ucapnya dengan semangat.

Kini setelah 3 tahun bergabung bersama K-LINK, ayah dari 4 anak ini telah memiliki dan melakukan hal-hal yang dulu tidak dibayangkannya. Dari wisata ke luar negeri, memiliki mobil pribadi, sampai kebebasan waktu dan finansial yang dinikmatinya bersama orang-orang tercinta.