Harmen Hadi, SH.i – Crown Ambassador

Bisnis K-Link adalah hidayah buat kami

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Lakukanlah bisnis ini, Anda pasti bisa sukses. Insya Allah.”

Sudah 1 tahun 7 bulan sejak Harmen bergabung dengan K-LINK, tapi ia tidak pernah terbuka dan aktif menjalankan bisnisnya, hingga suatu ketika tetangganya sakit. Ia teringat pada K-Liquid Chlorophyll, produk K-LINK yang pernah dilihatnya di pertemuan BOP. Dengan niat membantu tetangga ia pun datang ke stokis. Bagaikan jalan yang memang telah disiapkan oleh Tuhan, di stokis ia berkenalan dengan Ichwansyah (sekarang Crown Ambasador), yang ternyata adalah upline-nya.

Sangat antusias Ichwan mengajaknya serius di bisnis ini dan mempertemukan Harmen dengan Sang Maestro, guru dalam menjalankan bisnis K-LINK, CA Memet Ifkar. Sebelum bisnis K-LINK, berbagai bisnis pernah dilakukannya di kota Jogjakarta, dari berjualan pakaian di Pasar Beringharjo, hingga berjualan ikan laut di Pasar Kotagede, Jogjakarta.

Sambil melanjutkan kuliah di pasca sarjana di salah satu Universitas Jogjakarta, setiap hari sebelum shubuh ia pergi ke pasar. Pukul 9 saat pasar mulai sepi dan ikan-ikannya belum habis, ia berkeliling dari rumah ke rumah. Sementara siang hari ia pergi kuliah. Sang istri setia membantunya meskipun sedang hamil tua. Hampir setahun ia melakukan usaha ini sampai akhirnya dipertemukan kembali dengan bisnis K-LINK.

“Saya masih ingat pertama kali Pak Memet datang ke pasar mengajak saya membuat agenda home meeting. Keragu-raguan terus membayangi saya akan kegagalan di masa lampau. Sehingga saya belum sepenuh hati menjalankan bisnis ini. Himpitan ekonomi keluarga, beban hutang yang semakin menumpuk, biaya kuliah yang tidak sedikit, semakin membuat saya hampir putus asa, ditambah lagi biaya kelahiran anak pertama kami, Miftahul Faiz.” kenangnya.

Kelahiran putra pertamanya disambut tanpa persiapan baju dan perlengkapan bayi. Sementara biaya kuliahnya masih dibantu oleh keluarga di kampung. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk cuti kuliah. Keadaan ini harus berubah, pikirnya. Kemudian ia bertekad serius di K-LINK dan menghubungi Memet Ifkar untuk membimbingnya di bisnis ini.

“Saya mulai membuat daftar nama, mengundang, melakukan home meeting dan presentasi. Bahkan tidak jarang dalam proses itu saya dilecehkan. Pada awalnya, tantangan terberat kami bukanlah penolakan, tapi biaya operasional dan biaya hidup sehari-hari. Penghasilan saya hanya bergantung dari K-LINK,” ujarnya.

Seringkali ia meninggalkan istri dan anaknya tanpa uang, sementara ia berjuang membangun bisnis ini di luar kota, selama berminggu-minggu. Sebuah perjuangan yang tidak ringan bagi seorang istri dan putranya yang masih bayi. “Fokus saya hanya satu, bagaimana agar secepatnya saya punya penghasilan di K-LINK dan bisa menyicil hutang-hutang kami,” kata Harmen yang dulu seringkali karena tidak punya uang harus mendorong motornya puluhan kilometer.

“Secercah harapan baru muncul dalam impian kami. Saya yakin sebentar lagi keadaan pasti berubah. Saya tidak ingin anak dan istri saya menderita lagi. Orang tua saya harus tersenyum melihat anaknya sukses dan bisa mewujudkan impian-impian mereka. Saya ingin menjadi pahlawan bagi orang-orang yang saya cintai, dan membantu banyak orang lewat bisnis ini.