Franquelino Da Costa Freitas – Crown Ambassador

Tindakan adalah kunci dasar
untuk semua kesuksesan.

Franquelino Da Costa Freitas atau Lino lahir di Quelicai, Baucau, Timor Leste, dari pasangan ibu Ana Maria da Costa dan ayah Uali-Loi.

Franquelino Da Costa Freitas atau Lino lahir di Quelicai, Baucau, Timor Leste, dari pasangan ibu Ana Maria da Costa dan ayah Uali-Loi. Adik perempuan dan adik laki-laki telah meninggal dunia sekitar 1973. Pada perang saudara (1977) yang terjadi di Timor Leste mengakibatkan ayahnya meninggal dunia. Tahun 1991, ibunya juga meninggal dunia, tinggal ia dan kakaknya saat itu.

Lino dan kakak yang masih bersekolah tidak sanggup untuk menghidupi diri. Tahun 1982-1986, Lino menjadi TBO TNI di kampung sambil bersekolah. Pertengahan tahun 1986, ia merantau ke ibu kota Timor Leste, untuk melanjutkan sekolah sambil bekerja dengan mencuci piring dan pakaian orang.

Setelah selesai SMEA, karena tidak ada biaya, ia tidak bisa melanjutkan ke universitas. Namun, tahun 1997 ia memutuskan kuliah yang langsung dilanjutkan ke jenjang S2 di Timor Leste. Sekitar tahun 1995, ia bertemu seorang gadis dan akhirnya menikah. Setelah menikah, ia mencoba beragam profesi, mulai dari membuka kios, menjadi supir taksi hingga menjadi anggota KNPI. Disitulah, ia mulai belajar menjadi seorang leader.

Setelah berbagai macam profesi ia coba, tahun 2007, ia membuka perusahaan yang bergerak di konstruksi dan pengadaan. Usaha inilah yang bertahan. Bulan Oktober 2007, dimana Timor Leste terjadi krisis politik, ia bersama keluarga hidup di bawah tenda pengungsian dan saat itulah ia diperkenalkan K-LINK oleh CA Faisal Alkatiri. Namun, karena Faisal tinggal di Jakarta sehingga bisnis belum berjalan, ia hanya mengonsumsi produk K-Link.
Februari 2008, bapak Faisal datang kembali ke Dili dan menjelaskan bisnis secara mendetail dan ia pun tertarik. Saat itu ia bilang ke pak Faisal “Pak, jangan bicara ribuan dolar tapi kalau bapak yakinkan setiap bulan saya dapat $500, saya akan berjuang habis-habisan. Beliau menjawab dengan santai sambil bilang “pak Lino impiannya kecil”,” kenangnya.

Akhirnya ia aktif dan serius menjalankan K-LINK, menjadi salah satu EM tercepat di Timor Leste dan satu tahun kemudian, pertengahan 2010 menjadi CM pertama di Timor Leste. Namun di tahun yang sama karena adanya kekurangan produk dan lain-lain membuatnya berhenti di bisnis ini. Saat itu, ia memutuskan untuk mengerjakan proyek konstruksi jalan raya Suai-Batas Mota Masin, dan ia hanya membeli produk untuk dikonsumsi.

Kurang lebih selama tujuh tahun berhenti menjalani bisnis K-LINK, sekitar Oktober 2017, ia mendengar info bahwa Bapak Radzi membuka stokist baru, sehingga ia pun mulai aktif kembali. “Walaupun lama berhenti, saya tetap diterima sebagai peringkat CM, sehingga saya berjuang mulai dari Oktober 2017”, terangnya.

Terimakasih ia sampaikan kepada semua yang mendukung dalam menjalankan bisnis ini, CA Faisal Alkatiri dan istri, crossline, downline dan mitra K-Link yang tersebar di Timur Leste dan Indonesia yang tak bisa disebutkan satu-persatu serta kepada Bapak Radzi Saleh beserta manajemen PT K-Link Indonesia.