Dalam pertanian, ada banyak faktor penting yang harus dipenuhi agar mencapai hasil yang subur dan memuaskan. Salah satu yang harus diperhatikan adalah sistem atau cara pertanian nya. Dalam perjalanan waktu, pertanian dan cara memanfaatkan kesuburan tanah dipisahkan dalam beberapa periode yang dimulai dari pertanian tradisional, konvensional dan sistem organik.
Pertanian tradisional ini adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif, tidak mementingkan memaksimalkan input atau sarana produksi untuk memacu hasil panennya. Sedangkan pertanian konvensional itu berpacu pada produksi dan hasil pertanian yang bisa dinilai, yakni berdasarkan kuantitas dan kesuburan. Berdasarkan tuntutan tersebut, maka mulailah sistem pertanian bergerak ke pertanian modern yang berorientasi produksi. Sistem pertanian ini ditandai dengan inovasi dalam teknologi, mulai dari pengolahan kesuburan tanah, pemilihan bibit, pemupukan, sintetisasi, pengairan, hingga panen.
Sayangnya, sistem pertanian modern memiliki sejumlah persoalan yang patut dihadapi dengan serius. Aspek ekonomi, ekologi, dan sosial; menjadi pagar yang membatasi ruang gerak petani modern dalam menjaga keseimbangan hasil yang berlimpah dan kesuburan lingkungan secara jangka panjang. Secara ekonomi, pemberian pupuk kimia dan pestisida memakan biaya yang mahal. Sementara itu dari sisi ekologi sistem ini memiliki sejumlah kelemahan seperti penurunan kesuburan tanah. Kenyataan ini terjadi karena seringnya penggunaan pupuk kimia ataupun bahan-bahan kimia lain, seperti pestisida yang lama-kelamaan akan merusak kesuburan tanah akibat matinya organisme alami pendorong kesuburan.
Dengan ini, penting sekali untuk beralih pada pertanian organik. Pertanian organik adalah sistem budidaya tanaman, kesuburan tanah, dan ternak modern yang mengandalkan bahan-bahan alami serta menghindari penggunaan bahan kimia sintetis. Dampak positif pertanian organik bagi lingkungan diantaranya memulihkan kondisi kesuburan tanah yang terlanjur rusak akibat pemakaian pupuk atau pestisida. Kesuburan tanah bakal diperbaiki akan menjaga kelestarian sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Dengan pola organik, pengolahan tanah mendorong peningkatan kandungan bahan organik tanah serta meminimalisir terjadinya erosi yang berdampak pada sifat fisik tanah.
K- Bioboost merupakan pupuk hayati organik yang mengandung mikroorganisme tanah yang unggul yaitu Azotobacter sp , Azospirilium sp, Pseudomonas, Bacillus sp , & Cytophaga sp. Kandungan Azotobacter sp pada K-Bioboost bermanfaat sebagai penambat nitrogen non simbiotik, sehingga dapat meningkatkan kesuburan dengan memperbaiki kandungan unsur nitrogen dalam tanah. Bila unsur nitogen (N) cukup tersedia bagi tanaman, maka kandungan klorofil pada daun dan proses fotosintesis juga meningkat. Sehingga pertumbuhan tanaman lebih baik dan mampu menghasilkan substansi zat pemacu tumbuh yang dapat memacu pertumbuhan tanaman keseluruhan.
Bukan hanya itu kandungan mikroorganisme pada K-Bioboost mampu memperbaiki struktur tanah menjadi lebih subur, meningkatkan kapasitas penyerapan udara dan air dalam tanah, serta mempercepat pertumbuhan tanaman, serta meningkatkan hasil panen hingga 20% secara organik.Dan yang paling penting adalah kandungan Pseudomonas sp di dalam K-Bioboost mampu menguraikan bahan kimia yang teresidu di dalam tanah akibat penggunaan pupuk kimia selama ini dan pestisida kimia.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal sebelum pengaplikasian K-Bioboost pada pertanian organik Anda, jangan lupa untuk menyemprotkan K-Bioboost Step 1 pada lahan.
K-Bioboost Step 1 merupakan produk yang mengandung asam humat yang bermanfaat untuk menetralkan pH tanah sehingga mengoptimalkan penyerapan nutrisi dan pupuk sehingga tanah menjadi jauh lebih subur, sehingga hasil panen akan berkali-kali lipat.
Ingin pertanian organik dengan panen berlimpah dan biaya yang murah? Jangan ragu gunakan K-Bioboost step 1 & K-Bioboost.