RCA Ir. H. Irwansyah dan SCA Annisa Permatasari SE

“Saat itu, yang saya pikirikan hanyalah kami harus sukses dan keluar dari kebangkrutan kami”

RCA Ir. H. Irwansyah dan SCA Annisa Permatasari SE

Kami Harus sukses dan Keluar Dari Kebangkrutan !

Menuju kesuksesan bukanlah hal yang mudah. Butuh proses, waktu dan kesabaran untuk meraihnya. Seperti halnya RCA Ir. H. Irwansyah dan SCA Annisa Permatasari SE, yang memulai bisnis untuk sukses dan keluar dari kebangkrutan.

Rasa sejuk dan nyaman terasa ketika memasuki halaman dari rumah pasangan RCA Ir. H. Irwansyah dan SCA Annisa Permatasari SE, sapaan hangat dari pria berperawakan tinggi besar ini pun menyambut team Global Network saat berkunjung di sabtu siang. Obrolan panjang dimulai saat kami bertanya “seperti apa perjalanan sukses Anda bersama istri”.

Diceritakan Irwansyah, belasan tahun sudah ia menggeluti bisnis, dunia bisnis menjadi pilihan hidupnya dalam berkarir. Pasang surut pun dialami oleh dirinya, walaupun memiliki passion di bidang bisnis, bukan berarti dirinya tidak pernah merasakan menjadi karyawan. Pria kelahiran Palembang ini mengatakan, dirinya hijrah dari kampung halaman untuk mengadu nasib, selain pernah kerja serabutan, Irwansyah juga pernah bekerja sebagai karyawan perusahaan farmasi, dengan menyewa kamar kost dikawasan Manggarai sebagai tempat tinggal. Saat itu, penghasilannya pas-pasan. Karena dirasa tidak membuat kehidupannya banyak berubah dan hanya bisa menikmati hidup sebatas gaji, maka ia pun memutuskan untuk mencari pengalaman lain dalam berkarir.

Bisnis Multi Level Marketing (MLM), dipilih pria kelahiran 18 Agustus 1969 sebagai bisnis dengan tujuan meraih kehidupan yang lebih baik. Namun, bukan kehidupan semakin baik yang didapat, melainkan hutang dimana-mana dan beban hidup yang semakin berat, terlebih lagi saat itu ia memutuskan untuk menikah, tepatnya di bulan April tahun 2000, yang berarti ia harus membahagiakan sang istri dengan hidup yang tidak kekurangan. Di tahun-tahun berikutnya ia merasakan perekonomian yang semakin sulit, hingga mengalami kebangkrutan dalam berbisnis.
“Saat itu, yang saya pikirikan hanyalah kami harus sukses dan keluar dari kebangkrutan kami,” ujarnya.

Ketidak-puasannya terhadap bisnis terdahulunya memicunya untuk hengkang dan mencoba perusahaan lain. Sampai akhirnya ia mengenal bisnis K-LINK di tahun 2002 dari seorang teman yang sekaligus menjadi Uplinenya, RCA Erwin.

“Pa Erwin kontak saya untuk mengajak bisnis di K-LINK itu momennya sangat pas, saya lagi drop masalah finansial,” ungkap Irwansyah.

Deadline 3 Tahun

Siapa sangka, untuk menuju kesuksesan berperingkat RCA, Irwansyah diberikan deadline untuk sukses di Bisnis K-LINK hanya 3 tahun oleh istrinya.

Fokus pada tujuan untuk sukses dan terlepas dari kebangkrutan, membuatnya tekun menjalani bisnis K-LINK. Tidak jarang pula ia pergi keluar kota meninggalkan keluarga kecilnya, itu dikarenakan menurut Irwansyah ini adalah kesempatan yang istimewa buatnya. Irwansyah menjadikan aset satu-satunya yaitu sebuah mobil panther untuk dijadikan modal di bisnis K-LINK.

“Proses membangun bisnis itu 3 tahun pertama sangat tinggi, saya harus totalitas bekerja di bisnis ini karena kami tidak punya pilihan, tidak ada alasan buat saya untuk bersantai-santai. Mau tidak mau kita berkorban, mengejar impian yang tertunda. Saya berkorban, kerja gila-gilaan, praktis saya jarang sekali berkumpul bersama keluarga karena bisa dikatakan perjalanan bisnis saya sangat ketat juga padat. Sedangkan istri saya berkorban untuk mau ditinggal-tinggal,” diakui Irwansyah yang kerap memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan.

Irwansyah menjelaskan, saat membangun bisnis, untuk sukses pasti ada pengorbanan, karena sulit jika tidak mau berkomitmen. Baginya mencoba bisnis K-LINK menjadi tantangan tersendiri, saat itu ia memilih K-LINK karena memiliki visi dan misi global yang sangat jelas. Selain itu K-LINK juga punya K-System, satu-satunya support system yang dapat memandu meraih kesuksesan yang lebih besar lagi. Alasan lain juga dikatakan Irwansyah bahwa K-LINK juga memiliki Pemimpin yang terbukti dan teruji, bukan pemimpin yang hanya coba-coba di bisnis MLM.

Seperti yang telah diceritakan, waktu 3 tahun diberikan oleh sang istri sebagai “deadline”, untuk sukses di K-LINK dengan bekal support moral dan kepercayaan. Karena jika tidak berhasil dalam jangka waktu tersebut, Irwansyah terpaksa harus mencoba bisnis lain. Hal tersebut dibenarkan oleh Lisa, sapaan akrab dari SCA Annisa Permatasari SE yang ikut menemani Irwansyah berbincang dengan team Global Network.

“Saya kasih dia waktu 3 tahun, saya sangat percaya sama dia, saya tidak akan merengek-rengek jika dia tidak ada kabar. Walaupun sering berpisah jarak, akan tetapi komunikasi kita bagus, saya tahu betul lingkungan dia dan ga mau mikir macam-macam saat dia bekerja,” ucap Lisa.

Akhirnya dengan waktu 3 tahun itu, perlahan-lahan apa yang telah mereka rencanakan, harapkan dan impikan, terwujud dengan K-LINK. Membeli rumah di kawasan Tebet tahun 2005, yang saat ini ditempati sebagai aset pertama yang Irwansyah beli dengan hasil keringatnya saat bekerja di K-LINK. Tidak hanya aset berupa rumah dan mobil, di bulan Desember 2008, Irwansyah juga mendirikan stockist yang terletak di Mangga Dua yang dirasa cocok untuk mendukung bisnisnya.

“Kami beranjak dari keterpurukan dan kebangkrutan dalam finansial. Akhirnya kami berhasil karena K-LINK,” kembali dikatakan Irwansyah.

Bertekad Untuk Go Internasional

Walaupun suami sudah menjalankan bisnis K-LINK, lantas tidak membuat wanita kelahiran Taipei ini langsung tertarik ke bisnis yang sama. Namun karena melihat banyak manfaat yang diberikan dari K-LINK, akhirnya Lisa ikut aktif menjalankan bisnis dengan suami bahkan bertekad untuk menjalankan bisnis K-LINK hingga go international.

Sedikit cerita, walaupun memiliki keterbatasan berbahasa Indonesia, namun Lisa tetap punya cita-cita yang tinggi untuk membangun bisnis di Indonesia, modalnya saat itu ialah keberanian. Hingga akhirnya ia menikah dengan seorang warga negara Indonesia yang tanpa disangka menjadi rekan bisnisnya hingga saat ini, Irwansyah.

Lisa mengenang masa-masa mengenal K-LINK, dengan tegas ia berkata bahwa awalnya tidak tertarik dengan Perusahaan yang berlokasi di Mangga Dua ini, tetapi karena produknya bisa di demokan dan semua produk K-LINK sangat berkualitas serta unik, ia berpikir sudah pasti produk tersebut akan lebih mudah dipasarkan ke konsumen. Lisa juga beranggapan bahwa sistem marketingnya yang relatif mudah menjadikan dirinya semakin tertarik untuk bergabung di perusahaan ini. Kendati bergabung sejak tahun 2003, namun Lisa mulai tekun menjalankan K-LINK tahun 2009 di Indonesia dan tahun 2010 mulai membawa bisnis ini ke kampung halamannya di Taiwan.

“Karena saya berasal dari Negara Taiwan, hambatan saya adalah kurang lancarnya dalam berbahasa Indonesia, tetapi itu bukanlah suatu hambatan yang berarti bagi saya. Dan saya harus Sukses dalam menjalankan bisnis di Perusahaan K-Link ini hingga go international,” ucapnya yang menyebutkan alasan lain Lisa bergabung di K-LINK juga dikarenakan bisnis ini bisa diwariskan, memiliki kebebasan finansial serta waktu yang tidak terikat di perusahaan.

Kegigihan dan jerih payah Lisa berada di bisnis ini terbukti dengan diraihnya peringkat sebagai SCA di tahun 2015. Motto Lisa saat itu sederhana saja, “Jika Anda ingin sukses jangan membuat banyak alasan, karena banyak alasan akan membuat kantong kosong. Jika mempunyai kemauan, kerja keras, dan disiplin yakinlah kesuksesan akan Anda dapatkan”.

“Secara pribadi saya menyadari dia punya potensi yang sangat hebat. Tapi saya sadar, waktunya belum saat itu (tahun 2003), karena kami punya anak kecil, Bu Lisa juga sibuk mengurus rumah tangga. Sampai akhirnya di tahun 2009, Bu Lisa mulai tekun dan saya hanya membantu arahkan saja.”

Berjuang bersama dan saling mendukung merupakan kunci sukses pasangan ini. Bagi mereka, kesulitan itu adalah proses menuju sukses. Saat menemukan masalah, mereka mencari solusi sebagai jalan keluarnya, tidak sendiri-sendiri dan didapat dari keputusan bersama.

“Saya sangat senang berbisnis terlebih lagi bisnis ini di dukung suami. Saya sangat bangga bisa bergabung dengan Perusahaan ini. Dan semoga kami bisa go internasional bersama,” ujar wanita yang lahir tanggal 16 November 1972 lalu.

“Keluarga Segalanya”

Kalimat tersebut terucap dari Irwansyah yang diiringi anggukan tanda setuju dari Lisa. Menurut pasangan ini, dalam menjalankan bisnis K-LINK memang tidak mudah, namun asal giat berusaha dan semua tujuan hanya untuk keluarga, maka jalan menuju sukses pun akan dimudahkan.

Menurut Irwansyah dan Lisa, keluarga adalah segalanya. Motivasi mereka berjuang untuk sukses adalah keluarga. Bahkan tidak hanya keluarga inti. Bagi Irwansyah adalah dengan dirinya sukses, memiliki sesuatu, maka ia bisa memberikan kontribusi untuk keluarga besar saya. Uniknya bisnis ini dikatakan mereka bahwa K-LINK bisa dilakukan oleh semua orang, tanpa melihat status sosial, latar belakang pendidikan atau keahlian khusus, semuanya memiliki kesempatan untuk sukses yang sama. Dengan membantu orang lain menjadi sukses, itulah sukses yang sesungguhnya.

“Hadiahnya di hati, timbulnya rasa kepuasaan saat bisa berjuang untuk banyak orang,” ungkap ayah dari Atika Putri Maharani, Aisha Indah Sari dan Arina Zahra Syakura.

Sebagai seorang leader K-LINK yang berhasil meraih peringkat RCA pertama di dunia menurutnya juga tak lepas dari dukungan yang diberikan keluarga. Bahkan Irwansyah pernah masuk dalam jajaran ‘Penjual Terkaya’ dengan penghasilan Seratus Lima Puluhan Juta rupiah perbulannya pada tahun 2001 versi sebuah majalah Marketing di Indonesia.

Atas keberhasilan yang diraih, mereka mengucapkan terima kasih kepada para upline RCA Erwin dan SCA Setyo Darmo yang telah memperkenalkan pada K-LINK dan telah banyak membimbing. Juga kepada para downline atas dukungannya. Serta semua manajemen PT. K-Link Indonesia yang telah membantunya sukses seperti sekarang.