Novan Nurwanto – Crown Ambassador

“Kegagalan demi kegagalan adalah cara Tuhan menyiapkan kita untuk bisa menerima kesuksesan”

Novan Nurwanto – Crown Ambassador

“Alhamdulillah” adalah kata yang kerap terucap saat saya menengok kembali pada kehidupan saat kini. Saya sangat bersyukur pada Allah. Masih terbayang kuat di awal tahun 2006 saya merasakan fase terberat dalam hidup. Perusahaan garmen yang dirintis sejak kuliah jatuh bangkrut dan harus menanggung hutang cukup besar.

Di saat teman-teman seangkatan di kampus sudah lulus, saya yang masih berusia 23 tahun saat itu harus menanggung hutang. Sementara orang tua di kampung tidak tahu dan sangat berharap anaknya cepat lulus. Serba sulit, mau melamar kerja tak punya ijazah, berbisnis pun tak punya modal.

Sejak kecil rasanya saya memang sudah punya mental bisnis. Ayah (H. Wartono) dan Ibu (Hj. Nur Amaliah) adalah pedagang martabak, sehingga saya sedikit banyak belajar dari beliau. Saat SD saya berjualan es di acara-acara perkemahan Pramuka. Ketika masa liburan SMP dan SMA saya membantu orang tua berjualan martabak di kawasan kaki lima di Slawi.

Saya merantau ke Bandung pada 2001 untuk kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. Saya aktif di berbagai organisasi mahasiswa kampus sambil tidak lupa memutar otak mencari peluang bisnis. Pada pertengahan tahun 2002, saya mendapatkan uang Rp 1,4 juta dari orang tua untuk membeli komputer. Keinginan kuat berbisnis, uang itu saya belikan gerobak untuk berjualan. Saya berjualan pempek selama 3 bulan, berganti siomay dan baso tahu, kemudian beralih ke ayam goreng. Dari penjualan ayam ini saya bisa menikmati keuntungan sampai Rp 3 juta per bulan. Sayangnya di bulan keenam usaha ini berhenti.

Di pertengahan 2003 saya mencoba bisnis pelatihan. Di sinilah saya belajar banyak hal. Sambil memberikan pelatihan di berbagai kota saya mencari peluang pelanggan seragam. Dari bisnis pelatihan dan orderan konveksi saya mulai menabung hingga pada akhir 2004 bisa merintis CV garmen dan bisa melebarkan bisnis ke Malaysia.
Tapi kesuksesan bisnis di bidang trading garmen tersebut hanya berjalan sekitar 2 tahun. Awal tahun 2006 mitra bisnis saya membawa lari uang produksi dan seketika bisnis garmen mengalami kebangkrutan. Kegagalan tampak sangat akrab berkawan. Tapi itu tidak mengurungkan niat saya untuk tetap berbisnis.

Di tengah kebingungan dan tekanan saya terus berdoa memohon petunjuk Allah. Sampai pertengahan 2006 seseorang memperkenalkan saya pada bisnis K-LINK. Harapan saya mulai tumbuh. Kini sudah hampir 6 tahun saya membangun karya lewat bisnis K-LINK. Saya bersyukur Allah menakdirkan bertemu dengan bisnis K-LINK, bisnis yang atas izinNya telah mengubah kehidupan kami. Di bisnis ini saya bertemu pasangan hidup, Ivana Suciati dan Alhamdulillah kami telah dikaruniai 3 anak.

Lewat bisnis ini pula saya bisa mewujudkan mimpi memiliki rumah, mobil, pergi ke tanah suci, jalan-jalan ke luar negri, dan membangun yayasan yatim piatu. Terima kasih tak terhingga untuk seseorang yang telah memperkenalkan dan telah membimbing saya di bisnis K-LINK, RCA ELC Sucipto SE. Juga terima kasih kepada setiap orang yang telah banyak berperan dalam pencapaian sukses ini.