Hutang Piutang Dalam Islam

Hutang Piutang Dalam Islam
Hutang piutang merupakan salah satu bentuk transaksi yang biasa dilakukan dalam kegiatan bisnis, baik antar individu maupun perusahaan. Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, hutang piutang merupakan sesuatu yang lumrah dan sering terjadi.

Hutang piutang dapat terjadi dengan menggunakan akad Qardl, yakni hutang yang dibayar dengan sesuatu yang sama, misalnya hutang uang rupiah dibayar dengan rupiah, hutang emas dibayar dengan emas, dan hutang beras dibayar dengan beras, semuanya harus dibayar dengan kwantitas yang sama. Hutang piutang juga bisa terjadi dengan akad lain seperti akad bai’ atau akad jual beli misalnya membeli rumah atau kendaraan yang dibayar dengan sistem cicilan selama beberapa tahun, maupun dengan akad ijarah atau sewa menyewa, misalnya seseorang yang tinggal di rumah kost tetapi belum bayar sampai 3 bulan atau lebih.

Untuk hutang yang menggunakan akad Qardl,  hutang piutang ini  dikategorikan sebagai bentuk charity (kebajikan) dan tidak bertujuan mencari keuntungan, contohnya adalah ketika seseorang datang kepada Anda meminjam uang untuk biaya berobat, untuk biaya sekolah, untuk melaksankan ibadah umrah atau untuk memberikan donasi pembangunan masjid. Oleh karena qardl adalah charity, maka Rasulullah saw melarang adanya keuntungan yang diambil oleh orang yang meminjamkan uang, dalam hal ini beliau menjelaskan bahwa setiap qardl yang ada manfaat atau keuntungan bagi orang yang meminjamkan maka hal itu tergolong riba. Hadits nabi :



Rasulullah saw bersabda : "Setiap hutang yang mengambil manfaat adalah riba" [HR  Baihaqi].

Jika seseorang ingin berbisnis dengan tujuan mendapatkan keuntungan, maka yang lebih tepat adalah bertransaksi dengan menggunakan akad lain seperti akad jual beli, sewa menyewa, kerja sama atau bagi hasil. Jadi kita harus tepat memilih akad yang sesuai dengan maksud dan tujuan kita dalam bertransaksi. Banyak orang yang karena tidak belajar Fiqh Bisnis maka dia salah memilih akad yang tepat, banyak juga orang yang tidak belajar Islam lalu menyalahkan ajaran Islam karena kebodohannya tentang syariah Islam.

Hukum bagi orang yang berhutang adalah mubah, sedangkan hukum bagi orang yang memberikan piutang adalah sunnah selama hutang piutang tersebut untuk keperluan yang baik atau dibenarkan dalam Islam. Dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang memberikan piutang kepada sesama muslim 2 (dua) kali maka baginya pahala yang sama dengan bersedekah sebanyak 1 (satu) kali, bahkan pahala bagi orang yang memberikan piutang terkadang dapat melebihi pahala orang yang bersedekah, dijelaskan dalam hadits lain bahwa pahala sedekah itu 10 kali lipat sedangkan pahala memberikan piutang bisa mencapai 18 kali lipat. 

Baca Juga : Cara Terbebas Dari Dosa Karena Berhutang

Adapun apabila ada seseorang yang berhutang dan secara jelas akan digunakan untuk keperluan maksiat, maka kita tidak dibenarkan memberikan piutang kepada orang tersebut karena hal ini tergolong tolong menolong dalam perbuatan maksiat dan dosa. Akan tetapi ada catatan penting bagi setiap orang yang berhutang yaitu bahwa hutang itu wajib dibayar dan hutang itu merupakan sesuatu yang akan dibawa sampai mati.

Pada jaman dahulu pernah ada seseorang yang meninggal dunia dan hutangnya belum dibayar, maka Rasulullah saw tidak berkenan mensholatkan jenazahnya. Hutang merupakan sesuatu yang akan dibawa mati, artinya jika seseorang berhutang tetapi belum dilunasi maka ahli warisnya harus membayar semua hutang itu melalui harta yang ditinggalkan, dan jika tidak dilunasi maka hutang itu harus dibayar di akhirat dengan pahala yang dia miliki, jika tidak mencukupi maka dosa orang yang memberikan hutang akan dibebankan kepada orang yang berhutang, orang yang demikian ini disebut dengan muflis (bangkrut).

Seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan syahid di medan jihad untuk menegakkan agama Allah akan diampuni dosanya kecuali hutang, dengan kata lain hutang yang tidak dilunasi merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah swt. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh nabi dalam hadits berikut :



Dari Abdullah buin ‘Amr bin “ash bahwa Rasulullah saw bersabda : "Semua dosa orang yang syahid akan diampuni kecuali hutang"  [HR Muslim, Sohih Muslim hadits ke 1886].

Karena itulah apabila kita melaksanakan hutang piutang, sangat dianjurkan agar transaksi hutang piutang itu dibuat secara tertulis sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah 282. Banyak hikmah dalam pencatatan hutang piutang, antara lain adalah agar ahli waris orang yang berhutang mengetahui dan mengakui transaksi hutang piutang tersebut untuk kemudian mereka mau melunasinya jika dipanggil oleh Allah swt sebelum melunasi hutang.

Secara pribadi saya menyarankan agar tidak berhutang kecuali karena darurat. Hutang yang bukan karena darurat yaitu keperluan membeli rumah yang akan digunakan sebagai tempat tinggal dan hutang yang digunakan untuk keperluan memperbesar volume usaha yang sudah berjalan. Adapun bagi yang terlilit hutang sampai merasa berat maka diantara ikhtiar yang harus dilakukan adalah membaca doa yang diajarkan oleh nabi yaitu :



Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perasaan sedih dan tidak tenteram (galau), dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku juga berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan pelit, dan aku berlindung diri kepada-Mu dari hutang yang melilit serta dari tekanan orang lain.

Wallahu a’lam.


Artikel Rekomendasi : Terlilit Hutan Riba, Bagaimana?