Apakah (bisnis) Anda Muslim ?

Apakah (bisnis) Anda Muslim ?

Tulisan ini saya tujukan untuk menyambung artikel pada edisi sebelumnya, tentang  keraguan seputar MLM.  Ada pertanyaan yang sering diajukan oleh para mitra K-LINK, di antaranya :  Apakah K-LINK benar-benar telah sesuai  syariah?  Dalam hal apakah K-LINK dianggap sesuai dengan syariah? Dimanakah letak kesyariahannya? Terkadang pertanyaan ini  juga bermaksud untuk mencari kejelasan karena menurut mereka masih ada beberapa hal di K-LINK yang dianggap tidak atau belum sesuai dengan sistem syariah, seperti beberapa acara yang pelaksanaanya bersamaan dengan waktu sholat, pakaian wanita dalam acara-acara K-LINK ada yang tidak menutup aurat, masih adanya lagu dan musik dalam acara-acara K-LINK, dan beberapa member yang tidak aktif namun masih mendapatkan bonus atau passive income.

 

Saya mencoba menjelaskan sebagai berikut :

 

1.     Dari  237.641.326 penduduk Indonesia  (sensus BPS thn 2010) diperkirakan ada sekitar 200 juta yang beragama Islam. Dari sekian banyak umat muslim tersebut tidak semua muslim aktif sholat berjamaah di masjid, dan tidak semua muslimah selalu berbusana muslimah untuk menutup auratnya. Tidak semua yang kaya konsisten membayarkan zakatnya, tidak semua yang sehat melakukan shaum di bulan Ramadlan, dan tidak semua anak  taat kepada orang tuanya. Apakah kita boleh memvonis bahwa mereka sudah menjadi kafir karena telah melanggar ajaran agamanya? Atau, apakah ajaran Islam sudah tidak cocok lagi?

 

Menurut saya, hal-hal seperti  ini adalah ladang amal  sekaligus kewajiban kita  untuk berdakwah, mengedukasi, dan berusaha meningkatkan kesadaran mereka. Semua itu  mungkin timbul karena kesalahan atau keterbatasan orang-orang Islam yang tidak mendalami ajarannya, bukan kesalahan ajaran Islamnya, dan bukan berarti bahwa mayoritas penduduk Indonesia bukanlah muslim.

 

2.     Pada beberapa lembaga dan tempat aktifitas keagamaan seperti masjid, musholla, majelis taklim, sekolah Islam, kampus Islam dan pada beberapa organisasi keagamaan lainnya, kita melihat hal-hal yang sama dengan yang ditanyakan oleh para penanya di atas. Apakah saya harus menjawab bahwa lembaga-lembaga tersebut sebenarnya bukan lembaga Islam atau tidak sesuai dengan syariah dan tidak boleh membawa nama Islam atau bahkan harus dibubarkan? Kita harus menyadari bahwa banyak umat Islam yang belum memahami ajaran agamanya, banyak juga yang bisa membaca kitab suci tapi belum mampu memahaminya secara utuh. Justru karena kondisi inilah maka lembaga-lembaga keagamaan perlu diperbanyak agar ada kesempatan untuk mengislamkan orang Islam, bukan malah dibubarkan.

 

3.     Di negara-negara yang dianggap sebagai negara Islam seperti Iran, Arab Saudi dan Afganistan bahkan negara Islam yang pernah dipimpin oleh Rasulullah SAW, tidak pernah 100% bersih dari kemaksiatan. Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini  berpasang-pasangan. Ada pria dan wanita, ada besar dan kecil, ada siang dan malam, ada baik dan buruk, ada malaikat dan setan.  Ketika di zaman Rasulullah pernah ada sahabat yang berzina dan dirajam hingga mati. Khalid bin Walid sempat mencela wanita itu, namun ketika Rasul mendengarnya, beliau melarang Khalid bin Walid mencela wanita yang telah bertaubat itu. Sampai diibaratkan bahwa taubatnya itu cukup dibagi untuk 70 penduduk Madinah. Maka Rasul pun mensholatkan jenazah wanita tersebut. Dengan kata lain, wanita itu masih dianggap muslimah walau telah berbuat dosa dan harus dihukum.

 

Pesan moral yang ingin saya sampaikan adalah,  pada dasarnya pertanyaan yang diajukan itu merupakan otokritik. Tidak berarti bahwa K-LINK bukan merupakan bisnis yang sesuai dengan syariah. Dikarenakan hal-hal yang dilakukan oleh “oknum” bukan oleh sistem. Memang akan lebih baik jika semua karyawan dan mitra K-LINK bersedia memperbaiki diri dengan meningkatkan pemahaman dan pengamalan terhadap syariat Islam. Sehingga kesuksesan akan lebih mudah kita raih dengan izin Allah. Kesuksesan yang demikian ini akan membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

4.     Pada dasarnya K-LINK menginginkan agar semua member, khususnya yang muslim taat menjalankan ajaran agamanya, termasuk dalam berbisnis dengan K-LINK. Seorang muslim harus menjunjung tinggi nilai-nilai moral,  jujur, peduli terhadap orang lain, membantu orang lain, membina downline, tidak melakukan black campaign atau merusak bisnis orang lain. Tetapi semua itu perlu proses, tidak ada yang kun fayakun bagi manusia. Apabila kita mau berintrospeksi, apakah diri sendiri sudah 100% menjalankan syariah Islam? Apakah Anda sudah menjadi muslim yg kaaffah  (total)? 

 

Wallahu alam bish showab (Ust. Sofwan Jauhari Lc., M.Ag.)