5 Hal Penting tentang Puasa

5 Hal Penting tentang Puasa
Bulan Ramadlan, bulan penuh rahmat dan ampunan kembali menyambut kita.  Semoga kita dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt dan memaksimalkan ibadah kita di dalamnya. Menjelang datangnya Ramadlan Rasulullah pernah menyampaikan khutbahnya sbb:

" Wahai manusia… Bulan agung  yang penuh keberkahan telah menaungi kalian, bulan yang di dalamya terdapat malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, Allah swt menjadikan puasa pada bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamul lail (tarawih) sebagai hal yang disunnahkan, siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan hal yang sunnah maka pahalanya seperti orang yang melakukan kewajiban, dan siapa yang menjalankan kewajiban maka pahalanya seperti menjalankan 70 kewajiban di luar ramadlan, Ramadlan adalah bulan kesabaran, pahala kesabaran adalah surga, ramadlan adalah bulan kepedulian, bulan bertambahnya rezeki (hal-hal yg bermanfaat) bagi orang-orang beriman, siapa yang memberikan buka puasa (dan ia juga berpuasa) maka hal itu menjadi sebab ampunan atas dosanya serta pembebasan dirinya dari neraka, dan baginya pula tambahan pahala sebanyak pahala orang yang diberikan buka puasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun"   ( HR Ibnu Khuzaimah).

Berikut ini kami berikan panduan singkat untuk menjadikan Ramadlan lebih berarti dan agar ibadah kita bisa mencapai kesempurnaah yang maksimal dan diterima oleh Allah swt :


1.    Niat Puasa.

Niat cukup dilakukan dalam hati dan harus dilakukan pada malam hari sebelum Subuh (antara maghrib-Imsak), niat boleh juga diucapkan dengan lisan.  Mengucapkan niat pada saat selesai menunaikan sholat tarawih seperti yang dilakukan di beberapa masjid juga dibolehkan. Hanya saja  mengucapkan niat yang demikian memang tidak pernah diperintahkan oleh rasul.  Pengucapan niat seperti ini hanya merupakan sebuah “reminder” atau edukasi kepada masyarakat awam.  Adapun niat puasa Ramadan adalah sebagai berikut :

Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i  fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillaahi ta ‘aala.

  Artinya :
   ” Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala “.


2.    Doa Berbuka Puasa.

Apabila waktu maghrib sudah tiba, maka sebaiknya anda segera berbuka puasa, dan jangan ditunda-tunda, mulailah dengan membaca basmalah, makan kurma atau minum lalu membaca 2  doa berikut ini :


Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika  afthortu...
Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah


Artinya “Ya Allah karena Engkaulah aku berpuasa, dan dengan rezeki dari-Mu aku berbuka puasa .  Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

Doa yang pertama berdasar hadits nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud pada Sunan Abu Daud juz 2 hal 306. Meskipun haditsnya dloif tetapi para ulama tidak ada yang mengharamkan doa yang berasala dari hadits dloif, sedangkan doa yang kedua berasal dari hadits hasan dari kitab dan halaman yang sama. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Nasai dan ad-Daru quthni.


3.    Hal-hal yang membatalkan puasa.

Ada beberapa hal yang membatalkan puasa, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab fikh, yaitu :
a)    Memasukkan benda-benda baik makanan,minuman atau bukan ke dalam perut melalui rongga tubuh seperti makan-minum dengan sengaja, ataupun merokok (memasukkan asap)  di siang hari; siang hari yakni  antara subh sampai maghrib.
b)    Berhubungan suami istri.
c)    Keluarnya sperma karena disengaja, misalnya onani atau masturbasi. Jika tidak disengaja, misalnya mimpi basah di siang hari, maka hal ini tidak membatalkan puasa.
d)    Muntah dengan adanya kesengajaan, jika tidak sengaja misalnya karena mabuk perjalanan, atau karena ada bau yang tidak enak maka muntah yang tidak sengaja ini tidak membatalkan puasa.
e)    Berkumur secara berlebihan sampai ada air yang tertelan. Jika kumurnya secara wajar maka tidak membatalkan puasa.
f)    Haid atau Nifas.
g)    Murtad atau keluar dari agama Islam.

Apabila hal-hal itu terjadi maka batal puasanya dan diwajibkan meng-qodlo  atau membayar puasa pada hari yang lain, setelah Idul fithri sebelum ramadlan berikutnya datang.

Adapun marah, melakukan dosa -baik dosa kecil ataupun dosa besar-  seperti berbohong, melihat aurat lawan jenis, membicarakan aib orang lain dan sebagainya maka hal itu tidak membatalkan puasanya tetapi bisa membatalkan pahala puasanya. Maksudnya dia tidak wajib meng-qodlo puasa,tetapi boleh jadi Allah tidak memberikan pahala atas puasanya.  jika dia ingin mendapatkan pahala puasa maka yang bersangkutan bisa melengkapi dengan puasa sunnah seperti puasa senin-kamis, puasa ayyamul biidh pada pertengahan bulan hijriiyah, puasa 6 hari bulan syawwal dll.

Mengenai batalnya pahala puasa orang yang demikian ini dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya :


Rasul bersabda: Bayak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar, dan banyak orang yang melakukan qiyamul lail tetapi dia tidak mendapatkan dari qiyamul lail-nya kecuali begadang.  HR Ibnu Majah  II/591.

4.    I’tikaf.

I’tikaf artinya berdiam diri di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Itikaf diperintahkan untuk dilakukan kapan saja, baik di bulan ramadlan maupun di luar ramadlan,tetapi perintah ber-Itikaf menjadi lebih kuat (sunnah muakkadah: sangat dianjurkan) untuk kita lakukan pada 10 hari terakhir bulan ramadlan karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr, semenjak rasul berhijrah ke Madinah, beliau selalu melakukan itikaf pada 10 hari terakhir bulan ramadlan, bahkan beliau  pernah ber-I’tikaf selama 20 hari. Begitu pentingnya Itikaf sebagaimana dijelaskan oleh Imam Baihaqi, maka perlu diketahui bahwa I’tikaf juga merupakan salah satu cabang Iman. Diantara dalil tentang I’tikaf adalah :


Dari Aisyah ra berkata : bahwasanya Rasulullah saw beritikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan.  HR Bukhari  III/48.


Dari Anas bin Malik ra berkata: dahulu nabi saw beritikaf pada 10 hari terakhir bulan ramadlan, beliau pernah melakukan safar (bepergian) pada suatu tahun dan tidak melakukan itikaf, kemudian beliau beritikaf pada tahun berikutnya 20 malam. HR Ibnu Khuzaimah  III/346.
Itikaf yang terbaik adalah jika dilakukan non stop 10 hari-10 malam tanpa keluar dari masjid, namun jika kita belum mampu melakukan itikaf non stop, minimal kita melakukan itikaf pada tiap malam di 10 hari terakhir ramadlan untuk meraih keutamaan lailatul qadr, misalnya mulai shalat isyak sampai subuh, atau sampai waktu dhuha.

Beberapa ibadah yang dapat dikerjakan saat I’tikaf adalah melaksanakan sholat fardlu berjamaah, memperbanyak berbagai sholat sunnah  (tarawih, witir, tasbih, istikharah, dzuha dll), berdzikir, membaca Al-Quran, mempelajari Al-Quran/tafsir, dan mempelajari ilmu-ilmu agama seperti hadits, fikh, akhlaq dll. Ketika kita sudah lelah melaksanakan hal itu semua, kita diperkenankan istirahat di dalam masjid dan masih mendapat pahala itikaf.

5.    Wanita yang udzur melakukan puasa.

Bagi wanita yang haid, nifas atau karena menyusui sehingga tidak diperkenankan oleh dokter untuk berpuasa,  maka agar tetap mendapatkan fadhilah atau keutamaan bulan ramadlan, disarankan untuk melakukan hal –hal sbb : Beramal dengan membuat makanan untuk hidangan sahur dan buka puasa, baik untuk keluarga sendiri maupun untuk disedekahkan kepada orang lain, memperbanyak dzikir sebagai pengganti tilawatul quran, membantu  panitia ramadlan di masjid/musholla; misalnya menertibkan anak-anak yang sholat tarawih agar tidak mengganggu kekhusyuaan sholat jamaah yang lain, mengadakan pesantren kilat untuk anak-anak, menjadi panitia zakat dalam memberikan penyuluhan zakat, pengumpulan dan pendistribusian zakat, dan melakukan amal kebaikan yang lain.

Wanita yang haid dan nifas tidak diperkenankan berpuasa atau berdiam di dalam masjid, tetapi tidak dilarang berada di halaman masjid, kantor masjid atau bagian masjid yang lain yang tidak dikhususkan untuk sholat, dan wanita yang haid atau nifas juga masih dapat melakukan amal ibadah yang lain agar tetap mendapatkan pahala yang maksimal di bulan ramadlan.
Wallhu a’lam bish shawab.