Kehidupan Beragama Dalam Keluarga

Kehidupan Beragama Dalam Keluarga
Sesuatu yang sengaja dibangun untuk masa yang lama selalu membutuhkan pondasi yang kuat, baik itu rumah, jembatan jalan dan lain sebagainya, begitu pula dengan keluarga. Keluarga adalah sebuah bangunan yang melibatkan banyak pihak. Jika kita menginginkan rumah tangga yang kita bangun adalah rumah tangga yang “langgeng”,  tetap utuh sampai ajal menjemput  maka pondasi rumah tangga yang kita bangun harus kuat, terdiri dari “adonan” yang tepat. 

Pondasi rumah tangga yang kokoh memerlukan beberapa “bahan adonan”,  antara lain : rasa saling mencintai antara suami-istri, keinginan membahagiakan pasangan, kemauan untuk memenuhi kewajiban sebelum menuntut hak, kemampuan ekonomi yang standar, ketaatan dari pihak istri, dan beberapa hal lain. 

Dari sisi agama, ada beberapa pondasi yang harus diletakkan dalam membangun rumah tangga, antara lain :

Niat yang benar



Membangun rumah tangga harus diniatkan dengan benar, bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis. Bagi seorang muslim menikah adalah perintah agama yang harus dilaksanakan sesuai dengan aturan agama.

Cara pelaksanaan pernikahan yang sesuai dengan ajaran agama



Di mulai dari hubungan pra nikah, pre wedding, cara tunangan, resepsi pernikahan hingga hubungan suami istri, semua harus dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama, oleh karena itu kita perlu mengkaji hadits-hadits yang membahas hal itu. 

Menyinari rumah dengan menegakkan sholat 5 waktu



Menyinari rumah tangga kita dengan sholat sunnah di rumah dan membaca Al-Quran adalah suatu keharusan. Mewarnai rumah tangga dengan bacaan Al-Quran dan dzikir “al-ma’tsuurat” di pagi dan  sore atau malam hari dari anggota keluarga. Ini juga merupakan salah satu cara “self- ruqyah” agar penghuni rumah tidak mudah kena gangguan jin dan sejenisnya. (HM.Sofwan Jauhari Lc, M.Ag)