Tugas Seorang Istri Dalam Rumah Tangga

Tugas Seorang Istri Dalam Rumah Tangga
Alam semesta diciptakan berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada panas ada dingin, ada besar ada kecil, ada yang lemah ada yang kuat, ada yang kaya ada yang miskin, ada yang belajar ada yang mengajar, ada yang diberi ada yang memberi. Begitu pula kondisi manusia yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah SWT. Ada laki ada perempuan, ada anak ada orang tua, dan ada suami ada istri, semua itu diciptakan berpasang-pasangan untuk saling melengkapi.

Ikatan perkawinan dalam Islam bukan sekedar cara menyalurkan nafsu seksual dan kecintaan terhadap lawan jenis. Ikatan perkawinan memiliki  beberapa tujuan mulia seperti menghindari perzinaan, memberikan keturunan yang baik, memberikan ketenangan jiwa, merealisasikan kerjasama atau ta’awun ‘alal birri wat taqwa (bekerja dalam kebajikan dan ketakwaan) dan melindungi pihak lain dari neraka.

Oleh karena perkawinan dan rumah tangga merupakan team kecil yang bekerjasama untuk mencapai tujuan, maka perlu adanya pembagian kerja yang jelas dan tepat. Oleh sebab itu tidak seharusnya tugas suami dan istri itu sama persis. Memang ada tugas-tugas yang perlu dikerjakan bersama sehingga suami dan istri sama-sama bertanggung jawab melakukan tugas itu. 

Dalam bahasa hukum kita sering mengenal istilah hak kewajiban suami dan istri. Saya pribadi lebih suka menggunakan istilah kewajiban hak suami dan istri. Karena seseorang tidak layak menuntut hak jika dia tidak memenuhi kewajibannya. Jika seorang karyawan tidak memenuhi kewajiban untuk hadir setiap hari maka dia tidak layak untuk menuntut haknya mendapatkan gaji secara penuh. Jika istri tidak melaksanakan kewajibannya maka istri tidak layak mendapatkan haknya sebagai seorang istri, begitu juga dengan suami. 

Tugas utama seorang suami adalah memberikan nafkah kepada istri dan membimbingnya agar tidak terjerumus ke dalam neraka. Sedangkan tugas utama seorang istri adalah mengatur rumah tangga. Seorang istri tidak diwajibkan bekerja untuk mencari nafkah, karena mencari nafkah merupakan kewajiban suami. Akan tetapi dia boleh bekerja, berkarir ataupun menjalankan usaha selama tugas utamanya tidak ditinggalkan serta mendapatkan ijin dari suami serta tidak menjadikannya terjerumus ke dalam maksiat seperti perselingkuhan dan perzinaan.

Seorang istri boleh bekerja atau berbisnis jika dia tetap mengatur urusan rumah tangga, melayani suami dengan baik, dan dapat mengasuh anak-anaknya. Demikian pula dengan tugas-tugas seperti berorganisasi, wanita boleh aktif dalam sebuah organisasi asalkan syarat dan ketentuan tersebut masih dapat dipenuhi. (Ust. Sofwan Jauhari)