Jual Beli On-Line Dalam Pandangan Islam

Jual Beli On-Line  Dalam Pandangan Islam


Jual beli merupakan kegiatan  manusia yang terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Masalah-masalah fiqh yang muncul dalam jual beli  juga terus bertambah seiring perkembangan cara jual beli yang terus mengalami perubahan. Jika di zaman Rasulullah SAW jual beli dilakukan menggunakan emas dan perak (dinar dan dirham) sebagai alat tukarnya, saat ini jual beli telah mengalami metamorfosa yang pesat, dan semakin mudah karena kecanggihan teknologi. Salah satu peran teknologi dalam proses jual beli adalah maraknya sistem online purchasing atau jual beli secara online.

Dalam kajian Fiqh, jual beli akan dianggap sah jika memenuhi syarat dan rukun. Syarat dan rukun adalah hal-hal yang harus ada dalam setiap ibadah atau muamalat. Jika salah satu syarat atau rukun ada yang tidak terpenuhi, walaupun hanya satu syarat, maka ibadah atau muamalah tersebut menjadi batal, tidak sah atau haram hukumnya.

Syarat dan rukun jual beli adalah :

1.Aqidaan           : Dua pihak yang berakad.

Dalam jual beli, harus ada dua pihak atau lebih yang melaksanakan akad.  Para pihak yang berakad harus sudah akil baligh, tidak dipaksa, tidak mahjur ‘alaih (tidak dilarang oleh hukum untuk melakukan tindakan terkait harta kekayaannya) dan menurut Imam Nawawi pihak yang berakad harus bisa melihat, dan harus beragama islam jika yang dijualbelikan adalah mushaf Al-Qur’an atau  hamba sahaya muslim.1

Dengan demikian setiap transaksi dalam jual beli online harus diketahui dengan jelas siapakah pihak-pihak yang melakukan transaksi. Jika penjual tidak jelas, maka jual beli online bisa dikatakan cacat hukum.

Untuk kejelasan hal ini, artinya siapa yang menjadi penjual dan siapa yang menjadi pembeli,  maka seseorang yang ingin melakukan jual beli secara online, harus melalui website yang resmi, jelas siapa penanggung jawabnya, di mana kantornya dan apakah sudah memiliki izin. Jika Anda menemukan website yang tidak jelas siapa penanggung jawabnya, maka berarti rukun jual belinya tidak terpenuhi dan jual belinya menjadi tidak sah.

2. Benda yang diperjualbelikan.

Rukun kedua dalam jual beli yang harus ada ialah benda  yang diperjualbelikan. Benda ini harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu  : Suci, boleh dimanfaatkan secara syar’i, dimiliki oleh orang yang berakad, dapat diserahterimakan, jelas harga atau ukurannya, dan barang yang hendak dijual harus benar-benar sudah diterima sebelum menjual  kepada pihak lain.

Dari Jabir r.a  bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda pada tahun terjadinya  Fathu Makkah  : “Sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan penjualan khamr, bangkai, babi dan patung”  (HR Bukhori  hadits  nomer 2082).

Jika Anda menemukan suatu sistem bisnis, online maupun offline, dengan istilah  MLM atau nama-nama lain,  namun tidak menemukan obyek jual beli yang jelas dalam bisnis tersebut, atau obyek jual belinya tidak memenuhi persyaratan tersebut maka jelas jual beli atau bisnis yang demikian adalah haram hukumnya.

Banyak orang yang tergiur dengan money game, yang menjanjikan memberi keuntungan tertentu pada anggotanya tanpa harus menjual.   Transaksi yang demikian adalah transaksi yang cacat hukum atau tidak sah menurut hukum Islam, karena tidak terpenuhi rukun jual belinya.  Begitu pula jika produk yang diperjualbelikan adalah produk yang haram, maka transaksi jual belinya juga haram.

 

3. Sighat akad /  Ijab - Qabul

Rukun ke 3 dari jual beli adalah harus ada ijab-qabul. Pada mulanya ijab qabul harus dilakukan secara lisan, akan tetapi para ulama’ membolehkan ijab qabul dengan isyarat apabila jual belinya merupakan transaksi yang kecil dan sudah menjadi kebiasaan yang dimaklumi oleh masyarakat, seperti jual beli di supermarket yang dilakukan tanpa ada ijab qabul secara lisan, atau jual beli minuman yang menggunakan mesin, dimana pembeli cukup memasukkan sejumlah uang, dan mesin akan mengeluarkan minuman yang dikehendaki.

Syarat-syarat  yang harus dipenuhi dalam ijab dan qabul  yaitu2  :

  • Bersambung, antara  ijab dan qabul, tidak boleh dipisahkan dengan pembicaraan-pembicaraan yang lain.
  • Sinkron; antara  ijab dan qabul harus cocok dan sesuai. Jika Ijab dengan qabul tidak relevan maka jual belinya tidak sah, misalnya pembeli berkata : ”saya jual laptop ini kepada Anda dengan harga Rp 5.000.000,-”    dan pembeli menjawab: ”Ok saya beli dengan harga Rp 4.000.000,-””. Ini berarti antara ijab dan qabul tidak sinkron, maka jual belinya tidak sah.
  • Menggunakan bentuk kalimat dengan waktu yang akan datang. Contohnya : Tidak boleh menggunakan “Saya akan jual rumah ini kepada Anda”, tetapi harus menggunakan “Saya jual rumah ini kepada Anda.”

 

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan, pada dasarnya jual beli secara online adalah masalah moderen yang belum ada di zaman Rasulullah SAW, namun hukumnya diperbolehkan menurut syariat Islam jika memenuhi syarat dan rukun jual beli.   Wallahu a’lam bish shawab (HM. Sofwan Jauhari Lc, M. Ag).




1 Abu Zakaria an-nawawi, al-majmuu syarhul muhadzab, , Jilid  IX, hal 149, Darul fikr.

2 Fiqhus sunnah, III, 127-139