Berbisnis dalam Pandangan Syariah

Berbisnis dalam Pandangan Syariah

Banyak  orang memandang bahwa agama semata-mata mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Mereka mengira agama hanya mengatur urusan ibadah mahdloh, yakni  hal-hal yang bersifat ritual murni. Pandangan ini tidak relevan jika dikaitkan dengan Islam karena saat ini kita dapat melihat dengan jelas bagaimana peran agama atau syariah Islam dalam menggerakkan perekonomian bangsa.

Saat ini kita juga melihat bagaimana bisnis syariah telah menjadi sistem ekonomi alternatif bagi dunia. Bukan hanya kalangan muslim yang telah menerima Ekonomi Syariah dengan baik. Di negara-negara Amerika dan Eropa, ekonomi syariah, bank syariah dan asuransi syariah telah mereka terima dengan baik.

Islam Memandang Bisnis

Dalam Islam, bisnis merupakan sesuatu yang mulia dan sangat dianjurkan, sehingga Islam  mendorong umatnya untuk melakukan aktifitas bisnis. Tentu saja bisnis yang dimaksud adalah bisnis yang mematuhi aturan dan etika syariah. Ada beberapa dalil yang menjadi bukti bahwa Islam sangat mendorong umatnya untuk berbisnis. Di antaranya :

1.     Dalam beberapa ayat, Allah SWT memberikan perumpamaan hubungan kita dengan Allah sebagai suatu perdagangan atau bisnis. Dengan kata lain kita seolah diajak berbisnis dengan Allah SWT seperti yang tersirat dalam beberapa ayat, misalnya  QS. Ash-Shaff  ayat 10, QS. At-Taubah  ayat 111,  dan  QS. Faathir ayat  29.

 

2.     Dalam kitab suci Al-Quran, banyak ayat yang berbicara tentang bisnis. Bahkan ayat terpanjang dalam Al-Quran adalah yang berbicara tentang bisnis. Dalam ayat tersebut disinggung mengenai beberapa kegiatan bisnis seperti hutang piutang, transaksi non tunai, pegadaian dan dokumen bisnis (QS. Al-Baqarah ayat 282).

 

3.     Profesi yang dijalankan oleh Rasulullah, sebelum dan ketika sudah menjadi rasul adalah menjadi pebisnis. Sebelum menjadi rasul, beliau telah melakukan perdagangan yang serius dan sukses. Beliau bahan sempat beberapa kali memperluas jaringan bisnisnya dengan melakukan perdagangan di negeri Syam (Syria). Beliau juga bermitra dengan seorang wanita pengusaha yang sukses yang akhirnya menjdi istri beliau, Khadijah Radliyallahu Anha.

4.    Profesi para sahabat nabi umumnya adalah pebisnis, banyak nama sahabat besar seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang penghasilannya adalah bersumber dari bisnis. Mereka sukses berbisnis sehingga mampu berbuat banyak untuk kemajuan agama, misalnya Abdurrahman bin auf pernah menginfakkan hartanya sebanyak 40.000 keping uang dinar (1 dinar = 4,25 gram emas 22 K).

 

5.     Secara eksplisit, kemuliaan berbisnis ini dapat kita pahami dari hadits nabi, ketika ditanya  oleh sahabatnya, “Profesi apakah yang paling baik wahai  Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Seseorang yang bekerja dengan tangannya dan setiap bisnis yang mabrur   (HR Ahmad)”.  (Lihat  kitab Al-Musnad,  Imam Ahmad  Vol. 28  hal. 502;  Almusnadul kabir,  Imam Thabrani  Vol.4  hal. 276).  

Dapat saya jelaskan bahwa menurut hadits ini, profesi dan sumber rezeki terbaik adalah industri. Seseorang bekerja dengan tangannya untuk menciptakan sesuatu atau memproduksi sesuatu, baik industri pertanian, manufaktur maupun pabrik. Dengan memproduksi sesuatu, kita akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan mendirikan pabrik kita akan “memberi makan” kepada banyak karyawan dan lain-lain.

Adapun peringkat kedua profesi dan sumber penghasilan terbaik adalah berbisnis  yang mabrur. Mabrur artinya diterima atau baik. Yakni diterima atau baik menurut Allah dan baik menurut umat manusia. Sebuah bisnis dikatakan baik jika memenuhi beberapa ketentuan, antara lain :

a.     Komoditas yang dijual adalah halal di sisi Allah, tidak membahayakan orang lain, bermanfaat bagi orang yang mengkonsumsinya.

b.    Sistem transaksinya menggunakan pola transaksi yang halal, sesuai dengan syarat dan ketentuan syariah.

c.      Tidak mengandung unsur perjudian, riba dan gharar. Gharar adalah penipuan atau ketidakjelasan; seperti ketidakjelasan komoditas yang dijual, dan ketidakjelasan harga  jual. (HM. Sofwan Jauhari Lc, M. Ag).