Perspektif Halal dan Haram Dalam Islam

Perspektif Halal dan Haram Dalam Islam

Bagi seorang muslim urusan halal dan haram merupakan hal prinsip dan tidak bisa diremehkan. Dalam mencari rezeki, misalnya seorang muslim tidak boleh hanya berorientasi kepada  rezeki yang banyak saja tetapi juga harus yang halal. Kalau banyak tetapi haram, maka itu bukanlah rezeki yang kita cari.

“Biar banyak yang penting halal”, itulah prinsip yang benar dalam mencari rezeki, bukan menggunakan prinsip aji mumpung.  Begitu pula dalam  hal konsumsi makanan dan minuman, seorang muslim tidak boleh hanya memikirkan apakah makanan yang dikonsumsinya  enak atau tidak enak, tetapi makanan dan minuman yang kita konsumsi juga harus halal.

Terkait dengan hal ini ada satu hadits yang menarik untuk kita simak, yaitu ketika Rasulullah SAW menceritakan seseorang yang banyak bepergian, sehingga rambutnya sampai kusut dan berdebu, sebagai gambaran lahiriah orang tersebut adalah orang yang baik, sederhana, zuhud dan banyak melakukan perjalanan untuk kebaikan (ibnussabil).

Pria itu lalu berdoa menengadah ke langit seraya berucap : Ya Rabbi… Ya Rabbi… tetapi Rasulullah berkomentar : Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? Sedangkan yang dimakannya haram, yang diminumnya haram, pakaiannya yang dikenakannya  juga haram, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa "Sesungguhnya Allah SWT adalah zat yang thayib (baik), Dia tidak menerima sesuatu kecuali yang baik"  (HR Baihaqi & Ahmad).

Dari cerita yang disampaikan oleh Rasulullah ini dapat kita simpulkan bahwa salah satu penghalang  doa seseorang dikabulkan adalah karena rezeki yang diperolehnya tidak halal. Oleh sebab itulah rezeki yang kita peroleh, makanan dan minuman yang kita konsumsi harus kita yakini kehalalannya. Rezeki, makanan dan minuman yang haram  tidak akan membawa kebaikan pada diri kita walaupun rasanya enak.  

Makanan dan minuman yang haram pasti akan membawa kepada kehancuran, kebinasaan dan penyesalan di akhirat dan bahkan di dunia. Perhatikan kehidupan para koruptor di negeri ini, walaupun mereka kaya raya, bagaimana kondisi kehidupan rumah tangganya, perilaku anak-anaknya, dan apalagi kehidupannya di sisi Allah SWT di hari kemudian.

Membedakan Jenis Keharaman

Secara garis besar, ada 2 jenis makanan dan minuman yang haram :

1.     Haram karena zatnya / bendanya.

Makanan tersebut tergolong haram dikonsumsi dan tidak bisa menjadi halal kecuali dalam keadaan darurat seperti daging babi, daging anjing, minuman yang memabukkan (khamr). Batasan darurat adalah apabila tidak mengkonsumsinya maka terancam mati, seperti orang yang kelaparan sudah 1 bulan tidak makan misalnya.

 

2.     Haram karena cara memperolehnya.

Cara perolehannya tidak sesuai dengan ketentuan syariah, seperti diperoleh melalui mencuri, merampok, menipu, membohongi konsumen dan melakukan perjudian atau money game. Benda-benda yang didapatkan melalui cara ini haram untuk dikonsumsi.

Selain menjadi penghalang atas doa-doa yang dipanjatkan, makanan dan minuman haram yang dikonsumsi juga akan menjadikan orang itu masuk neraka, walaupun dia rajin menjalankan ibadah. Setiap ibadah yang kita lakukan akan selalu bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karenanya kita harus mengingat hadits di atas, bahwa Allah SWT tidak akan menerima pendekatan yang dilakukan oleh seseorang dengan hal-hal yang tidak disukai olehNya.

Analoginya begini, jika ada seorang lelaki yang melamar seorang muslimah yang solihah, dan ia membawa buah tangan untuk wanita tersebut. Dengan harga sangat mahal, hadiah itu berupa  daging babi, daging  anjing, minuman keras, narkoba, ganja dan sejenisnya. Apakah wanita yang dilamar akan menerima lamaran lelaki tersebut? Apakah hadiah itu bisa mendekatkan diri orang yang memberikan kepada yang diberi hadiah?

Maka, jika Anda sholat, pergi haji, bersedekah, membangun masjid, menyumbang anak-anak yatim dengan uang yang haram, maka yang bisa saya sampaikan kepada Anda adalah komentar Rasulullah SAW kepada lelaki yang berdoa dalam cerita di atas 

Annaa  yustajaabu lahu?  Mana mungkin Allah akan menerima ibadah Anda?”

Pada hadits lain Rasulullah SAW bersabda bahwa "Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yag haram, maka  neraka lebih baik baginya" (HR Baihaqi  dalam kitabnya Syu’abul Iman).

Maka marilah kita jaga kebaikan bisnis kita bersama. Jangan hanya mengejar keuntungan, bonus, atau uang, Anda juga harus pikirkan apakah cara mendapatkannya halal atau haram? Ketika mengkonsumsi makanan, minuman atau produk-produk kesehatan, jangan hanya berpikir enak, segar dan bermanfaat bagi tubuh, tapi perhatikanlah apakah produk tersebut halal atau haram?  Wallahu a’lam bish shawab (HM. Sofwan Jauhari Lc, M. Ag).