Buta Warna Pada Anak

Buta Warna Pada Anak
Buta warna merupakan istilah yang digunakan untuk seseorang yang mengalami gangguan penglihatan dalam membedakan warna. Seringnya kasus buta warna menimpa anak-anak terutama anak laki-laki, tentu akan mengganggu proses belajar pada anak. Karena itu, orang tua perlu mendeteksi lebih dini gejalanya.

Gejala buta warna yang menimpa anak sangat bervariasi bisa ringan, sedang hingga berat yang dapat dikenali salah satunya dari kemampuan mengenal warna. Perlunya diketahui secara dini gejala buta warna pada anak karena proses belajar dan aktifitas anak-anak akan terganggu sehingga pada akhirnya dapat membatasi pemilihan profesi pekerjaan anak kelak. Untuk itu, orang tua perlu mengikuti perkembangan anak.

Misalnya, anak seharusnya sudah dapat mengenali warna, membedakannya dan menyebutkannya secara verbal sejak usia 3 tahun. Sementara anak yang normal dapat membedakan ribuan warna, pada anak yang mempunyai gangguan buta warna berat ia hanya dapat membedakan beberapa warna.

Buta warna sendiri bukanlah suatu penyakit. Kondisi ini merupakan suatu kondisi yang diakibatkan adanya kerusakan atau kelainan pada salah satu sel mata yang terletak pada retina sentral yang disebut sel kerucut. Sel kerucut ini sangat sensitif terhadap rangsangan cahaya yang masuk ke dalam mata. Sel-sel kerucut sendiri terdiri dari tiga macam, yakni sel kerucut untuk warna merah, warna biru, dan warna hijau.

Terdapat 3 tipe buta warna yang paling sering terjadi, yakni:

Buta warna merah-hijau
Anak yang menderita tipe ini akan sulit membedakan gradasi warna merah dan warna hijau.

Buta warna biru-kuning
Anak yang menderita tipe ini akan sulit membedakan gradasi warna biru dan gradasi kuning.

Buta warna seluruhnya
Tipe ini merupakan yang paling jarang terjadi dimana penderita tipe ini hanya akan melihat warna hitam dan putih.


Baca Juga : Hindari Obesitas Pada Anak Anda


Apa Penyebabnya?
Buta warna pada anak paling sering disebabkan karena faktor keturunan (genetik) dan lebih sering menyerang anak laki-laki. Selain faktor genetik, buta warna bisa juga terjadi akibat efek samping dari pengobatan atau gangguan kesehatan yang telah ada sebelumnya.

Bagaimana Pencegahannya?
Jika Anda atau pasangan Anda merupakan penderita buta warna, ada kemungkinan kondisi ini akan diturunkan kepada anak. Lakukan pencegahan sejak dini merupakan solusi yang terbaik. Disarankan selama masa kehamilan, sang ibu mengonsumsi makanan yang bernutrisi, baik untuk perkembangan maupun pembentukan sel mata janin. Setelah melahirkan, ibu tetap disarankan untuk mengonsumsi makanan yang baik untuk perkembangan mata, karena nutrisi tersebut akan terkandung dalam ASI yang diminum oleh bayi.

Adapun nutrisi yang baik untuk mata antara lain Omega 3 dan Vitamin A. Jika keduanya tercukupi dengan baik, maka diharapkan pembentukan dan perkembangan mata selama dalam janin dan selama proses tumbuh kembang dapat lebih maksimal sehingga mencegah buta warna pada anak.
K-Link memiliki produk yang sangat baik untuk mencegah buta warna sejak dalam kandungan.





Selama masa kehamilan dan masa menyusui sang ibu disarankan mengonsumsi K-Omega Squa Plus dan K-Liquid Organic Spirulina. Kandungan EPA dan DHA yang terdapat dalam Omega 3 akan membantu memaksimalkan pembentukan sel-sel retina sejak dalam kandungan. Selain itu, EPA dan DHA juga dapat membantu menjaga kesehatan mata.





Keduanya mengandung nutrisi yang sangat baik untuk menunjang pembentukan sel saraf mata selama dalam kandungan. jika anak sudah berusia 2 tahun, disarankan untuk rutin mengonsumsi K-Kids Omega.

Kandungan omega 3 dan Vitamin A yang terkandung di dalamnya sangat baik untuk menunjang perkembangan mata sang buah hati. Sementara vitamin A dapat membantu metabolisme sel yang terdapat pada lapisan paling luar retina, yang berfungsi untuk beradaptasi dengan cahaya terang dan gelap. Fungsi lain vitamin A adalah mencegah pembentukan radikal bebas yang dapat merusak sel retina dan lensa. (Fina/Marini)

Artikel Rekomendasi    : Anak Cerdas Kebanggaan Orang Tua