Terus Maju, Selesaikan Apa Yang Telah Anda Mulai

Terus Maju, Selesaikan Apa Yang Telah Anda Mulai
Judul di atas sangatlah sederhana namun bermakna dalam dan tidak mudah untuk dilakukan. Apa lagi kalau Anda menghadapi berbagai kejadian yang mengikis semangat. Namun saya yakin Anda setuju bahwa Terus Maju adalah keharusan jika Anda ingin sukses dalam bidang apa saja.

Mari kita kupas salah satu sisi, apa yang membuat orang bisa menerapkan prinsip Terus Maju ini. Dalam kita mengejar untuk memujudkan impian, banyak tantangan dan rintangan. Ada yang mengatakan tantangan itu ada karena kita belum berpengalaman dan kita menghadapinya sebagai proses belajar sampai ke titik mahir baru berhasil.

Memang betul di tahap-tahap awal perjalanan menuju sukses, rintangan-rintangan yang ada karena hal-hal teknis. Namun pada saat di titik Anda sudah cukup mahir pun tantangan itu tetap ada, dalam bentuk yang advance. Bukan hal-hal teknis lagi tetapi hal-hal psikis.

Saya lebih melihat tantangan itu sebagai pahat yang membentuk karakter dan kepribadian kita untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan itu proses seumur hidup. Karakter kita perlu dipahat agar di saat kita berhasil, tidak menjadi bumerang seperti nasib kebanyakan orang-orang yang menang lotre, yang belum siap menerima rejeki besar.

Kesadaran akan hal ini penting diketahui, agar semangat dan energi kita tidak mudah patah. Semangat pasang surut itu dialami semua orang, namun menyerah hanya dilakukan oleh pecundang. Saya akan menyadur kisah Bob Willen yang banyak tertulis di dunia maya dalam berbagai bahasa, kisahnya juga banyak dibicarakan di seminar-seminar motivasi.



Lomba marathon internasional 1986 di New York diikuti ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini berjarak 42 km mengelilingi kota New York. Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan acara ini melalui televisi secara langsung.

Ada satu peserta yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob seorang veteran perang Vietnam. Ia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya ke depan. Lomba pun dimulai. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish.

Wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. Para penonton terus bertepuk tangan mendukung para pelari. 5 km telah berlalu. Beberapa peserta mulai kelelahan, mulai berjalan kaki. 10 km berlalu. Saat ini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang ikut untuk sekedar iseng-iseng.

Beberapa yang kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia. Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen masih berada di urutan paling belakang, baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama.

Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melemparlemparkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangannya. Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob! Ayo Bob ! Berlarilah terus”. Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 km dalam satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.

Empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob perlahan-lahan bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.

Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah-tengah gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit ! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Jangan menyerah! Cepat bangkit!”

Perlahan Bob mulai membuka matanya kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat-lompat ke depan. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guinness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.

Di hadapan puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata, “Saya bukan orang hebat. Anda tahu saya tidak punya kaki lagi. Saya hanya menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Saya hanya mencapai apa yang telah saya inginkan. Kebahagiaan saya dapatkan dari proses untuk mendapatkannya. Selama lomba, fisik saya menurun drastis. Tangan saya sudah hancur berdarah-darah. Tapi rasa sakit di hati saya terjadi bukan karena luka itu, tetapi ketika saya memalingkan wajah saya dari garis finish. Jadi saya kembali fokus untuk menatap goal saya. Saya rasa tidak ada orang yang akan gagal dalam lari maraton ini. Tidak masalah Anda akan mencapainya dalam berapa lama, asal Anda terus berlari. Anda disebut gagal bila Anda berhenti. Jadi, janganlah berhenti sebelum tujuan Anda tercapai”.

Selesaikan apa yang Anda mulai di bisnis ini. Harapan dan keyakinan bahwa Anda bisa mencapai finish dalam perjuangan anda di bisnis ini adalah aset yang paling penting yang Anda harus jaga. Yakinlah bahwa Anda tetap bisa sukses, walaupun telah kehilangan upline, downline, dukungan keluarga, apapun yang menimpa Anda. Tidak masalah Anda akan mencapainya dalam berapa lama, asal Anda terus berjuang, maka kesuksesan hanyalah masalah waktu. Jangan berhenti sebelum impian Anda terwujud. (Ir. Djoko H. Komara)