Menunda Kesenangan Kecil dan Fokus Pada Tujuan Akhir

Menunda Kesenangan Kecil dan Fokus Pada Tujuan Akhir

Dalam perjuangan apapun pasti kita akan melalui tahap pencapaian, selangkah demi selangkah untuk terus maju dan sampai pada tujuan utama kita. Sama halnya dalam berjuang membangun bisnis ini, kita diajarkan dan mulai menguasai kebiasaan untuk terus berjuang, pantang menyerah dan terus melakukan.

Namun ujian demi ujian akan terus kita hadapi untuk mengasah kita menjadi insan yang memang siap untuk sukses sesungguhnya. Hadangan berikutnya adalah zona nyaman pada tahapan pencapaian perjalanan kita. Seperti ketika kita sekolah dulu, saat mendapat nilai ujian harian yang bagus kita puas dan terlena serta mengendurkan semangat belajar. Bukankah tujuan utamanya adalah naik kelas? Sering tanpa sadar kita cepat puas dengan pencapaian-pencapaian kecil, sehingga mengarahkan kita pada mengendurnya ritme perjuangan.

Saya terinspirasi dengan kejadian nyata yang disadur dari kisah aktor Sylvester Stallone, salah satu aktor termahal Hollywood. Stallone lahir dari keluarga miskin di Amerika. Namun ini tidak menghalanginya bermimpi menjadi seorang bintang besar. Saat remaja, dia sering mencoba casting di beberapa film murahan, namun itu pun tidak pernah berhasil. Suatu saat, Stallone terinspirasi pada sebuah pertandingan tinju, yang membuatnya menulis tentang manuscript film olahraga tinju, Rocky.

Setelah selesai, Stallone mencoba menawarkan naskahnya kepada berbagai perusahaan film, tapi tak ada yang mau membelinya, karena pada saat itu memang film dengan latar belakang tinju tidak laku di pasaran. Sampai akhirnya, ada sebuah perusahaan yang mau menawar harga naskah film tersebut sebesar 75.000 dolar, jumlah uang yang nilainya puluhan kali lipat dari uang yang pernah dimiliki Stallone.

Saat itu, ada kebimbangan di dalam hatinya. Uang itu, cukup untuk membuatnya hidup lebih layak dan makmur. Tapi di sisi lain, Stallone ingin menjadi bintang, seorang aktor terkenal, bukan penulis naskah film. Jadi Stallone mengajukan diri kepada perusahaan film tersebut, agar dia yang menjadi aktor utamanya. Mereka menolak, karena mereka sudah memilih aktor yang sudah berpengalaman, dibanding Stallone yang tidak punya latar belakang dan pengalaman di film.

Negosiasi menjadi alot, karena Stallone menolak menjual naskah tersebut jika bukan dia yang menjadi pemeran utamanya. Bahkan saat harga naskah itu meningkat tiga kali lipat, dan terus meningkat hingga satu juta dolar, Stallone tetap menolaknya. Walau ia miskin dan lapar, tapi ia berani menolak uang satu juta dolar, hanya karena dia sudah punya impian yang kuat, bahwa dengan menjadi aktor, dia bisa memperoleh uang jauh lebih banyak dari uang satu juta dolar.

Akhirnya, perusahaan film itu menyerah dan mereka mengizinkan Stallone menjadi pemeran utama, dengan syarat naskah itu dijual hanya dengan harga 35.000 dolar, serta Stallone hanya akan mendapat bayaran sebagai aktor sejumlah royalti dengan persentase tertentu jika film itu cukup laku di pasaran. Sebuah pilihan berisiko tinggi diambil oleh Stallone. Mengorbankan uang satu juta dolar, dan hanya mendapatkan 35.000 dolar plus tambahan lagi beberapa ribu dolar jika film itu laris. Semua orang di sekitarnya mengatakan bahwa itu adalah keputusan terburuk yang pernah diambil Stallone. Tapi Stallone tidak menggubris, karena di hatinya dia tahu, bahwa yang dia lakukan hanyalah menunda kesenangan sesaat, untuk mendapatkan kesenangan lain yang lebih besar.

Pada waktu film Rocky diluncurkan, bukan saja film itu menjadi laris, tapi menjadi box office di seluruh dunia, dengan total penjualan bersih menjadi 171 juta dolar. Meraih 10 nominasi academy awards, serta mendapatkan satu piala Oscar. Secara spontan, Stallone langsung naik daun menjadi aktor kelas atas Hollywood, dan tawaran main film kelas satu pun mulai berdatangan.

Dalam perjuangan untuk sukses besar, memang terhampar jebakan-jebakan untuk kita lupa dan terlena. Sama juga di bisnis ini, banyak orang terjebak dalam peringkat Silver Leaders Club, terlena menikmati kesenangan-kesenangan kecil, yang kadang membuat kita merasa sudah puas. Padahal bukan itu sebenarnya yang kita inginkan. Banyak yang cepat menghabiskan semuanya, bahkan sampai minus oleh hutang cicilan sehingga tidak lagi punya dana untuk berinvestasi lebih lanjut. Sering terjadi bukan hanya bisnisnya tidak berkembang, tetapi malah menyusut dan hanya masalah waktu saja, akan kembali ke titik awal. Tidak ada salahnya untuk menikmati hasil sementara, tapi tetaplah fokus, pertahankan momentum dan punya visi ke depan yang jelas, untuk terus sampai pada tujuan utama : ELC RCA.