Kenali dan Deteksi Gejala Kanker Kolon

Kenali dan Deteksi Gejala Kanker Kolon
Kanker kolorektal menjadi salah satu penyakit yang perjalanannya lambat. Diperkirakan waktu untuk terbentuknya kanker kolorektal itu adalah 15 hingga 20 tahun. Sehingga sangat penting untuk kenali dan deteksi terjadinya kanker ini sejak dini.

Sebanyak 95 persen kasus kanker usus besar atau kanker kolon dapat diatasi, jika ditemukan dini. Untuk itu, yuk kita kenali gejala kanker usus besar, dimana beberapa hal yang kerap dikeluhkan para penderita, yaitu:

•    Perdarahan pada usus besar yang ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar.
•    Perubahan pada fungsi usus (diare atau sembelit) tanpa sebab yang jelas, lebih dari enam minggu.
•    Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
•    Rasa sakit di perut atau bagian belakang.
•    Perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar.
•    Rasa lelah yang terus-menerus
•    Terkadang kanker dapat menjadi penghalang dalam usus besar yang tampak pada beberapa gejala seperti sembelit, rasa sakit, dan rasa kembung di perut.


Prosedur Deteksi Dini Kanker Kolon

Bagi mereka yang telah mengalami gejala, seperti perdarahan pada saat buang air besar dan tertutupnya jalan usus atau penyumbatan. Deteksi dini sangat disarankan. Beberapa prosedur deteksi dini kanker kolon antara lain:

•   Pemeriksaan colok dubur oleh dokter bila seseorang mencapai usia 50 tahun. Pemeriksaan tersebut sekaligus untuk mengetahui adanya kelainan pada prostat.
•   Setelah itu, dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan darah samar (occult blood) secara berkala, apakah terdapat darah pada tinja atau tidak. Kemudian pemeriksaan secara visual dengan endoskopi di kolon atau disebut kolonoskopi. Pemeriksaan kolonoskopi atau teropong usus ini dianjurkan segera dilakukan bagi mereka yang sudah mencapai usia 50 tahun.
•   Pemeriksaan kolonoskopi relatif aman, tidak berbahaya, namun pemeriksaan ini tidak menyenangkan. Kolonoskopi dilakukan untuk menemukan kanker kolorektal sekaligus mendapatkan jaringan untuk diperiksa di laboratorium patologi. Pada pemeriksaan ini diperlukan alat endoskopi fiberoptik yang digunakan untuk pemeriksaan kolonoskopi. Alat tersebut dapat melihat sepanjang usus besar, memotretnya, sekaligus biopsi tumor bila ditemukan.
•   Cara lain untuk menunjang diagnosis kanker kolon adalah dengan enema barium. Pada pemeriksaan enema barium, bahan cair barium dimasukkan ke usus besar melalui dubur dan siluet (bayangan)-nya dipotret dengan alat rontgen. Pada pemeriksaan ini hanya dapat dilihat bahwa ada kelainan, mungkin tumor, dan bila ada perlu diikuti dengan pemeriksaan kolonoskopi.
•   Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi kanker dan polip yang besarnya melebihi satu sentimeter. Kelemahannya, pada pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan biopsi.
•   Dengan kolonoskopi dapat dilihat kelainan berdasarkan gambaran makroskopik. Bila tidak ada penonjolan atau ulkus, pengamatan kolonoskopi ditujukan pada kelainan warna, bentuk permukaan, dan gambaran pembuluh darahnya. Aru mengatakan dengan deteksi dini diharapkan kanker kolon dapat segera ditangani atau diterapi. Beberapa terapi, seperti kemoterapi dan radiasi dapat dilakukan untuk mengatasi kanker kolon.

(Inggrid N/Sumber : Yayasan Kanker Indonesia)