Kanker Kolorektal Mudah Terjadi Karena Lingkungan

Kanker Kolorektal Mudah Terjadi Karena Lingkungan
Kanker kolorektal adalah keganasan kedua tertinggi di negara-negara maju. Bahkan kanker ini dianggap sebagai kanker yang paling mudah terjadi dan mudah terpengaruh karena faktor lingkungan termasuk gaya hidup.

Kanker usus besar yang juga disebut sebagai kanker kolorektal atau kanker kolon merupakan kanker yang lokasinya berkisar dari usus besar (kolon) sampai dekat dubur (rektum) dan daerah antara usus besar dan anus  (disebut rektum). Seperti di negara-negara lain di dunia, angka kejadian kanker kolorektal meningkat pada kelompok usia di atas 50 tahun dan lebih banyak menimpa kaum laki-laki, dengan perbedaan yang menarik bahwa pasien berusia di bawah 35 tahun berjumlah lebih besar dari negara maju.

Kanker ini timbul akibat pertumbuhan abnormal sel tubuh sebagai konsekuensi dua kejadian, yaitu kerentanan dari pasien dan pajanan (exposure) terhadap bahan-bahan karsinogenik di lingkungan.  Sehingga dapat dikatakan bahwa kanker kolorektal merupakan jenis kanker yang paling dipengaruhi oleh lingkungan yang mencakup “kebiasaan” atau gaya hidup, serta kebiasaan konsumsi makanan.

Masih banyak gaya hidup yang menyebabkan terjadinya kanker ini, beberapa diantaranya yaitudiet yang salah, obesitas (kegemukan), kebiasaan merokok,  termasuk jarang melakukan aktivitas fisik, semisal bekerja sambil duduk seharian  seperti di kantor.

Segera ambil tindakan untuk menghambat pertumbuhan kanker kolorektal. Bagi mereka yang telah mengalami gejala, seperti perdarahan pada saat buang air besar dan tertutupnya jalan usus atau penyumbatan. Deteksi dini sangat disarankan. Untuk menangani kanker usus besar, terapi bedah merupakan cara yang utama dan paling efektif, utamanya bila dilakukan pada penyakit yang masih terlokalisir.

Namun cara mudah untuk menghambat penyakit ini juga bisa dilakukan semisal memilih makanan yang memiliki zat anti kanker, atau dengan melakukan diet tinggi serat, asam folat, serat, vitamin D dan kalsium, aspirin termasuk aspirin serta vitamin C dari makanan. (Inggrid Namirazswara)